Senyawa Anti Kanker
Tanaman
nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) dapat
ditemukan di Madagaskar, Afrika Timur, Asia Selatan dan Tenggara, Kepulauan
Pasifik, Hindia Barat, dan Amerika Selatan. Tumbuhan ini memiliki nama yang
berbeda di setiap daerah, seperti bintangor di Malaysia, hitaullo di Maluku,
nyamplung di Jawa, bintangur di Sumatera, poon di India, dan di Inggris dikenal
dengan nama alexandrian laurel, tamanu, pannay tree, serta sweet scented
calophyllum (Dweek dan Meadows, 2002 dalam Murniasih, 2009).
Tanaman
nyamplung atau bintangur merupakan tumbuhan tinggi yang banyak tumbuh di
wilayah Kalimantan, Batam, Bangka Belitung, Papua. Bintangur banyak digunakan
masyarakat sebagai obat tradisional dan bagi sebagian masyarakat menggunakan
nya sebagai obat kanker dan HIV. Bintangur juga dikembangkan oleh masyarakat
Cilacap khususnya di sekitar Kecamatan Patimuan dan daerah Gunung Selok
Kecamatan Kroya/Adipala. Mereka memanfaatkan kayu nyamplung untuk pembuatan
perahu nelayan. Sejak tahun 2007, Dinas Kehutanan Perkebunan Kabupaten Cilacap
telah menanam 135 ha di lahan TNI Angkatan Darat sepanjang Pantai Laut Selatan,
tahun 2008 direncanakan menanam seluas 300 ha.
Sebagai
obat tradisional kulit batangnya secara
eksternal dapat digunakan untuk mengobati pembengkakan kelenjar dan pada ramuan
obat Cina untuk mengobati kanker sedangkan secara internal dapat digunakan
untuk memperlancar buang air kecil (diuretic). Ekstrak daun digunakan
sebagai pencuci radang mata dan di Kamboja ekstrak daun nyamplung digunakan
dalam pernafasan untuk mengobati vertigo dan migrain. Getahnya yang beracun
sering digunakan oleh orang Samoan untuk melumuri anak panah sebagai panah
beracun serta dapat digunakan untuk mengobati pembengkakan dan penyakit tumor
(Tempesta and Michael, 1993). Minyak biji yang bersifat racun (toksik) cukup
kuat (Kriswiyanti dan Narayani, 2000) dapat digunakan untuk memulihkan rambut
rontok (Veronika, 2003), sebagai antiparasit (Tempesta and Michael, 1993), dan
dapat digunakan sebagai bahan bakar minyak lampu dengan kandungan minyak 70-73%
berat biji kering.
Studi fitokimia beberapa ahli
terhadap Caliphyllum, menunjukkan bahawa tanaman bintangur mengandung senyawa
benzofuran, santon, dan fenilkumarin yang merupakan senyawa aktif. Penelitian ilmiah terhadap bintangor dari Kalimantan dari jenis
Calophyllum tetrapterum dilakukan oleh Mulyadi Tanjung dan Tim Riset Kimia
Bahan Alam Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, berhasil menemukan
senyawa aktif baru Calotetrapterin A, Calotetrapterin B dan Calotetrapterin C.
Senyawa baru tersebut diujikan pada sel kanker leukimia (sel murin leukemia P
388) dan menunjukkan kekuatan yang sangat aktif.
Hasil
penelitian memberikan prospek yang sangat bagus bagi dunia kesehatan dalam
upaya mengobati penyakit kanker yang berbasis pada bahan alam yang lebih aman.
Penemuan senyawa Calotetrapetrin A-C ini telah dipublikasikan pada jurnal Natural
Product Research Tahun 2019.
Bagian
tanaman yang diteliti adalah kulit batang, bagian yang sering digunakan oleh
masyarakat sebagai ramuan obat tradisonal. Kulit batang diperoleh dari daerah
sungai Mendawak, Kalimantan Timur. Identifikasi tanaman dilakukan oleh Ismail
Rachman, ahli botani dari Herbarium Bogoriensis, Pusat Penelitian Biologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor.
Sumber :
http://fst.unair.ac.id/penemuan-senyawa-baru-anti-kanker-dari-tumbuhan-bintangor/
https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/51371/6/F11sth_BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf

Komentar
Posting Komentar