Konflik SARA di Indonesia


KARYA ILMIAH
ILMU BUDAYA DASAR
“KONFLIK SARA DI INDONESIA”



DISUSUN OLEH:
DIAH HARDIANI NINGRUM
11519754
1PA10

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2020


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan rahmat dan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan keluarga dan teman sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah yang berjudul “Konflik SARA di Indonesia” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
            Penulis pun menyadari bahwa karya ilmiah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak kesalahan baik dalam penulisan atau pun kekurangan lainnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca makalah ini agar nanti nya makalah ini menjadi lebih baik. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan penulis mohon maaf sebesar-besarnya.

Depok, 8 Januari 2020


Penulis


DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi........................................................................................................ ii
BAB I Pendahuluan
1.1  Latar Belakang................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah.............................................................................. 1
1.3  Tujuan................................................................................................ 2
BAB II Pembahasan
2.1  Definisi SARA.................................................................................. 3
2.2  Penyebab Konflik SARA.................................................................. 4
2.3  Dampak Konflik SARA.................................................................... 5
2.4  Penganggulangan Konflik SARA..................................................... 7
Daftar Pustaka............................................................................................... 9











BAB I
PENDAHULUAN

1.1   LATAR BELAKANG

Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai macam suku budaya, etnis, agama, dan golongan. Keanekaragamaan ini disatukan dengan adanya Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semboyan yang terletak di bawah burung garuda ini dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah suatu bangsa yang mencerminkan jati diri bangsa  yang kaya akan sumber daya budaya yang berbeda-beda dari berbagai macam suku, agama, ras dan antar golongan masyarakat namun tetap bersatu dalam negara kesatua Republik Indonesia.
Akan tetapi di satu sisi lain dari keragaman tersebut menyimpan konflik yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sesuai seperti apa yang dikatakan oleh Najwan (2009: 196) dari keanekaragaman budaya, etnis, agama dan antar golongan ini dari satu sisi secara teori multi budaya merupakan potensi budaya yang dapat mencerminkan jati diri bangsa yang besar, akan tetapi dari sisi lain juga berpotensi menimbulkan konflik yang dapat mengancam integrasi bangsa karena konflik antar budaya dapat menimbulkan pertikaian antar etnis, antar agama, ras, dan antar golongan (SARA) yang bersifat sensitive dan rapuh yang menjurus kearah disintegrasi bangsa Indonesia.

1.2   RUMUSAN MASALAH
1.      Apa definisi dari SARA?
2.      Apa penyebab konflik SARA?
3.      Apa dampak dari konflik SARA?
4.      Bagaimana cara pencegah atau menanggulangi terjadinya konflik SARA?
1.3   TUJUAN
1.      Untuk mengetahui dan memahami definisi SARA.
2.      Untuk mengetahui penyebab konflik SARA.
3.      Untuk mengetahui dampak dari konflik SARA.
4.      Untuk mengetahui dan memahami cara pencegahan terjadinya konflik SARA.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1   DEFINISI SARA
Suku, Agama, Ras dan Antar golongan atau biasa disebut dengan kata SARA. Akronim ini sering kali disebutkan dalam berbagai kesempatan yang menyangkut akan kepentingan bersama, sub-sub sara ini merupakan salah satu jenis kelompok sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat. Kelompok sosial yang telah terkotak-kotakan ini diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi kehidupan bermasyarakat, karena dengan adanya pengelompokan-pengelompokan ini diharapkan distribusi pemerintahan akan lebih mudah terlaksana.
Kelompok sosial itu sendiri menurut Abdul Syani (2007:98) mempunyai pengertian sebagai suatu kumpulan dari orang-orang yang mempunyai hubungan dan berinteraksi, di mana dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama.
Sedangkan menurut Polak (dalam Abdul Syani 2007) menyatakan bahwa kelompok sosial adalah suatu grup, yaitu sejumlah orang yang ada antara hubungan satu sama lain dan antar hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur.
Anti Sara adalah suatu tindakan sistimatis untuk memerangi masalah Sara dalam segala macam bentuknya, termasuk sistim dan kebijakan diskriminatif serta sentimen-sentimen Sara yang telah ditanamkan secara tidak sadar sejak usia kanak-kanak. Oleh karena persoalan Sara sering melibatkan persoalan kekuatan ekonomi dan politik, dimana suatu kelompok berhasil menguasai kekuatan ekonomi atau politik dan tidak bersedia mendistribusikannya kepada kelompok lainnya, maka gerakan moral Anti Sara juga berupaya untuk mengikis ketimpangan-ketimpangan tersebut dan mengkoreksi sistim yang mengakomodir ketidakadilan sosial ini
Sara adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut suku, agama, ras dan antar golongan. Setiap tindakan yang melibatkan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan yang didasarkan pada identitas diri dan golongan dapat dikatakan sebagai tidakan Sara. Tindakan ini mengebiri dan melecehkan kemerdekaan dan segala hak-hak dasar yang melekat pada manusia.
Sara dapat digolongkan dalam tiga katagori :
o  Individual : merupakan tindakan Sara yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Termasuk di dalam katagori ini adalah tindakan maupun pernyataan yang bersifat menyerang, mengintimidasi, melecehkan dan menghina identitas diri maupun golongan.
o  Institusional : merupakan tindakan Sara yang dilakukan oleh suatu institusi, termasuk negara, baik secara langsung maupun tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja telah membuat peraturan diskriminatif dalam struktur organisasi maupun kebijakannya.
o  Kultural : merupakan penyebaran mitos, tradisi dan ide-ide diskriminatif melalui struktur budaya masyarakat.

2.2   PENYEBAB KONFLIK SARA
Kelompok sosial disebut sebagai etnis, karena mempunyai satu atau lebih simbol-simbol kebudayaan, seperti hal nya sebagai akibat dari agama atau kepercayaan, keturunan, bahasa, kesamaan asaul usul (negeri), gaya hidup, dan adat istiadat. Pengertian suku menggambarkan adanya sejumlah manusia yang menyandang kebudayaan tunggal dengan unsur-unsur sama, bahasa, tata hidup dalam keluarga, adat istiadat, tata hubungan antara manusia beserta alam sekitarnya, dan sebagainya.
Konflik antarsuku yang sering disebut sebagai konflik etnis dapat terjadi jika:

a.       Ada dua suku hidup berdampingan
b.      Dalam hubungan sosialnya terjadi interaksi
c.       Dalam interaksi itu dirasakan oleh salah satu atau kedua pihak bahwa ada unsur-unsur budaya yang bertentangan, ada ketimpangan sosial (satu pihak dominan terhadap pihak lainnya) atau terdapat sumber kehidupan yang menjadi bahan perebutan.

Penyebab masalah konflik SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) dapat berbeda-beda tergantung kasusnya. Dalam hal ini terdapat beberapa faktor yang sering menyebabkan konflik SARA yaitu:
1.      Perbedaan orientasi nilai budaya dan masing-masing saling memaksakan kehendak.
2.      Tertutupnya pintu komunikasi antar masing-masing pihak sehingga tidak bisa saling memahami pola budaya.
3.      Kepemimpinan yang tidak efektif, pengambilan keputusan yang tidak adil.
4.      Ketidakcocokan peran-peran sosial, yang disertai dengan pemaksaan kehendak.
5.      Terjadinya perubahan sosial budaya yang bersifat revolusioner, sehingga terjadi disintegrasi sosial-budaya.

2.3   DAMPAK KONFLIK SARA
Konflik SARA akan menimbulkan dampak tidak hanya pada individu atau kelompok yang berkonflik namun juga akan berdampak pada masyarakat sekitar, dan dampak secara tidak langsung juga akan dirasakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berikut adalah dampak-dampak dari konflik SARA:



1.      Ketegangan antara individu atau kelompok yang berkonflik
Konflik dimulai dari individu kemudian berkembang ke kelompok yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak orang terseret di dalamnya. Akibat awal yang akan terjadi dari timbulnya konflik ini adalah tentu ketegangan antara individu dan kelompok yang terlibat.
Jika tidak segera diredam maka ketegangan ini akan dapat menimbulkan konflik lain yang lebih besar lagi. Oleh karena itu, sebisa mungkin ketegangan ini harus segera diselesaikan. Biasanya pada saat ini diperlukan seseorang sebagai mediator netral untuk memediasi kedua individu atau kelompok yang berkonflik agar berdamai.

2.      Memicu tindak kekerasan
Setelah timbulnya ketegangan maka secara psikologis akan mempengaruhi jiwa seseorang dan dapat memicu timbulnya tindak kekerasan. Tindakan ini biasanya timbul dalam konflik antara dua kelompok yang memiliki pikiran radikal. Mereka tidak segan-segan menggunakan tindakan kekerasan agar tujuannya mendapat pengakuan dan di benarkan.

3.      Hilangnya rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat
Jika terjadi tindak kekerasan maka akan memicu kerusuhan, dimana dalam kondisi tersebut masyarakat akan merasa ketakutan dan tidak aman. Kedaan ini bukan hanya berdampak pada kelomok yang berkonflik namun juga masyarakat sipil di sekitar akan terkena dampaknya.

4.      Jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda
Terjadinya kekerasan dan memicu terjadinya kerusuhan mengakibatkan akan terjatuhnya korban jiwa baik dari kelompok yang konflik atau masyarakat sekitar yang sebenarnya tidak terlibat sama sekali dalam konflik tersebut.

5.      Mengancam keutuhan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa
Dalam kondisi yang terjadi pada poin sebelumnya, maka kerukunan antar masyarakat akan hilang. Sehingga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bernegara akan runtuh

2.4   PENANGGULANGAN KONFLIK SARA
1)      Melakukan manajemen konflik. Manajemen konflik adalah: “tindakan konstruktif yang direncanakan, diorganisasi, digerakkan dan dievaluasi secara teratur atas semua usaha demi mengakhiri konflik”. Ada delapan konsep dalam melakukan manajemen konflik, yaitu:
o   Pengakuan diri bahwa dalam setiap masyarakat selalu ada konflik;
o   Analisis situasi yang menyebabkan konflik;
o   Analisis pola perilaku pihak-pihak yang terlibat konflik;
o   Menentukan pendekatan konflik yang dapat dijadikan model penyelesaian;
o   Membuka semua jalur-jalur komunikasi, baik langsung atau tidak langsung;
o   Melakukan negoisasi atau perundingan dengan pihak-pihak yang terlibat konflik;
o   Rumuskan beberapa anjuran, alternatif, konfirmasi relasi sampai tekanan; dan
o   Hiduplah dengan penuh motivasi kerja dengan konflik.

2)      Melakukan analisis konflik, yaitu melakukan penelitian tentang pola budaya antar etnik atau kelompok yang sedang konflik. Tujuan penelitian ini adalah:
o   Akan dapat melacak sejarah etnik, karena sejarah budaya etnik sangat menentukan karakter etnik masing-masing;
o   Menjelaskan faktor penyebab konflik antar etnik;
o   Melakukan interpretasi terhadap konflik etnik dengan melihat sebab-sebabnya;
o   Mengelaborasi nasionalisme etnik dan peranannya dalam eskalasi konflik sosial; dan
o   Menggambarkan situasi khusus yang terjadi dalam kondisi kekinian dan meprediksi kondisi keakanan

3)      Melakukan pendidikan komunikasi lintas budaya. Diantara strategi pendidikan komunikasi lintas budaya adalah memberlakukan pendidikan multikultural yang terintegrasi pada setiap mata pelajaran di setiap satuan pendidikan. Inti pendidikan multikultural adalah, demokratisasi, humanisasi dan pluralis (sutrisno, l. 2003; suryadinata, l., dkk. 2003).
Menyoroti hal tersebut di atas kita semua harus bekerja sama dalam mengatasi masalah sosial yang sudah menjadi sorotan bagi kita. Dengan rasa saling empati dan saling merangkul satu sama lain, masalah akan lebih cepat selesai. Apalagi dengan disertai prakek-praktek yang nyata, akan semakin banyak orang sadar akan kehidupan sosial ini, karena untuk mengatasi hal ini tidak dapat diatasi hanya dengan teori semata.


DAFTAR PUSTAKA

Prayudi. (2004). Akar Masalah Penyebab Konflik Etnis dan Alternatif Penyelesaian (Studi Kasus Konflik Etnis di Kalbar dan Kalteng). Empati Jurnal Ketahanan Nasional, IX (3). 44 - 52.

http://digilib.unila.ac.id/11250/14/15.%20BAB%20II%20%28Tinjauan%20Pustaka%29.pdf
http://puspensos.kemsos.go.id/home/br/697
https://hukamnas.com/akibat-konflik-sara






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bioteknologi : Pembiakan Seksual dan Aseksual

MITOS : Larangan Makan di Depan Pintu

Efek Rumah Kaca Terhadap Bumi