Autobiografi
ILMU
BUDAYA DASAR
“AUTOBIOGRAFI”
DISUSUN OLEH:
DIAH HARDIANI NINGRUM
11519754
1PA10
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2020
CATATAN
DIAH
Nama
aku Diah Hardiani Ningrum, lahir di Jakarta, 11 Juli 2001. Aku anak kedua dari
dua bersaudara. Diah adalah nama panggilanku, terkadang teman-teman ku
memanggil ‘dih’ atau ‘yah’ biar lebih mudah katanya. Aku terlahir di keluarga
sederhana, ayahku bekerja sebagai karyawan swasta dan ibuku sebagai ibu rumaha
tangga dan memiliki usaha laundry. Sebelum
aku lahir, ibuku sempat bekerja sebagai karyawan swasta tetapi karena aku
sering keluar-masuk rumah sakit membuat ibuku harus meninggalkan pekerjaan nya.
Aku pun sampai sekarang tidak tahu penyakit apa yang pernah menyerangku itu,
ibuku sempat menceritakan kalau aku sempat tidak bernafas setelah beberapa hari
dilahirkan.
Saat
TK tahun pertama, aku memang terlihat sehat dan tubuhku gemuk seperti
kebanyakan anak lainnya tetapi karena satu dan lain hal membuat berat badanku
turun drastis hingga dibangku sekolah dasar kelas 4, aku mendapat perundungan
secara verbal dan lebih sering dijadikan ‘pesuruh’ oleh beberapa temanku.
Merasa tidak baik akhirnya aku memutuskan memberanikan diri di tahun
berikutnya, akhirnya karena hal tersebut aku menjadi lebih kuat bahkan berat
badanku kembali normal.
Meninggalkan
bangku sekolah dasar dengan baik dan nilai yang cukup memuaskan membuatku mudah
melupakan hal buruk tersebut. Karena tempat tinggalku berada di perbatasan
Bekasi dan Jakarta Timur membuatku lebih memilih melanjutkan sekolah di Jakarta
karena fasilitas yang baik dan biaya yang lebih murah. Disinilah aku memulai
membuka diriku dengan mengikuti ekstrakurikuler basket, aku merasa lebih sehat
tetapi rasa malu untuk memulai obrolan masih terbawa, ternyata aku belum bisa
terbuka kepada orang lain. Sampai di akhir tingkat SMP aku hanya memiliki teman
yang bisa dibilang itu itu aja bahkan aku pun termasuk yang paling ketinggalan
berita kalau ada sesuatu di sekolah.
Kemalasanku
menjadi-jadi saat kelas 3 SMP padahal Ujian Nasional sudah di depan mata tetapi
aku malah asik nonton drama korea “Descendants of the Sun” yang saat itu
memang lagi tren dan merasa sudah cukup belajar karena hasil Try Out yang sudah cukup bagus. Alhasil
aku mendapatkan nilai yang terbilang cukup jauh dari ekspektasi, aku tidak
lolos sekolah negeri di Jakarta dan mau tidak mau aku harus sekolah di Bekasi
yang biaya nya cukup mahal. Karena tidak ingin membebani kedua orang tua, aku
mengikuti tes untuk pindah sekolah di semester dua dan tiga tetapi tidak lolos.
Sekolah ini
mengharuskan murid nya untuk mengikuti satu dari empat ekstrakurikuler wajib
yaitu pramuka, paskibra, PMR, dan Rohis. Aku memilih rohis karena menurutku
paling mudah yaitu kita hanya mendengarkan ceramah, lagi – lagi semua itu tidak
sesuai dengan ekspektasiku yang tinggi. Rohis ternyata sama sibuk nya seperti
OSIS sempat merasa lelah dengan kegiatan tapi teman dan kakak kelas selalu
mendukungku. Sampai akhirnya aku di percayai untuk menjadi sekretaris rohis
selama satu periode. Di organisasi itulah aku belajar banyak tentang public speaking, kerja sama tim dan soft skill lainnya yang tidak dipelajari
di dalam kelas. Selama masa SMA ini aku seperti mengganti diriku yang dulu
dengan orang yang baru.
Tingkat
akhir SMA memang melelahkan dari berbagai ujian yang dilaksanakan di sekolah
dan juga SBMPTN. Aku sangat ingin lolos gizi UI saat itu, pagi-siang-malam
diisi belajar ikut bimbingan sana-sini sampai lupa diri kalau aku mempunyai
sang pencipta yang mendengarkan 24 jam doa – doa ku. SBMPTN dan Ujian Mandiri
tidak ada yang lolos, kedua orang tua ku sudah mengeluarkan kurang lebih 2 juta
rupiah untuk semua ujian tersebut. Sempat tidak ingin melanjutkan kuliah alias
menganggur satu tahun untuk mempersiapkan tes tahun depan. Tetapi kedua orang
tua menentang dan lebih memilih aku kuliah di perguruan tinggi swasta, selama
masa ‘berpikir’ itu aku mulai mencari cari PTS yang masih membuka pendaftaran
dari berbagai media.
Tidak disengaja aku menemukan platform ‘Riliv’ aku mulai
mengikuti dan mengunduh aplikasi nya. Didalam nya terdapat bagian meditasi dan
konsul ke psikolog terpecaya dan untuk pertama kali nya aku mengikuti meditasi
ternyata sangat baik untuk tubuh dan pikiran. Saat itu lah aku mulai tertarik
dengan self healing dan mental health dengan memulai mencari berbagai platform
baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Hingga akhirnya saya mendaftar di
Universitas Gunadarma jurusan Psikologi. Ternyata kegagalan yang aku alami
sebelumnya menyelamatkanku dari hal yang bisa saja ternyata tidak aku sukai, oh
iya aku kepingin masuk gizi ui karena kebanyakan teman ku memilih kesana dan
aku juga belajar kalau kita tidak boleh mudah puas, besar kepala apalagi
menyombongkan diri. Untuk kamu yang membaca ini, ingat kegagalan bukan berarti
kamu tidak mampu melainkan kamu memiliki hal yang tak terduga setelah kegagalan
itu terjadi. Jangan patah semangat!

Komentar
Posting Komentar