Karya Ilmiah : Upacara Pemakaman Adat Toraja



KARYA ILMIAH

ILMU BUDAYA DASAR
“UPACARA PEMAKAMAN ADAT TORAJA”







DISUSUN OLEH:
DIAH HARDIANI NINGRUM
11519754
1PA10

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019
















KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan rahmat dan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan keluarga dan teman sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah yang berjudul “Upacara Adat Tanah Toraja” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
            Penulis pun menyadari bahwa karya ilmiah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak kesalahan baik dalam penulisan atau pun kekurangan lainnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca makalah ini agar nanti nya makalah ini menjadi lebih baik. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan penulis mohon maaf sebesar-besarnya.

Depok, 23 Oktober 2019


Penulis






DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi........................................................................................................ ii
BAB I Pendahuluan
A.    Latar Belakang................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah.............................................................................. 1
C.     Tujuan................................................................................................ 1

BAB II Pembahasan
A.    Pengertian Rambu Solo’.................................................................... 2
B.     Proses Rambu Solo’........................................................................... 3
C.     Makna Rambu Solo’.......................................................................... 6

Daftar Pustaka............................................................................................... 8






BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Mamasa.
Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal dengan Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Kata toraja berasal dari bahasa Bugisto riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman (Rambu Solo), rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari Rambu Solo’ ?
2.      Bagaimana proses dari Rambu Solo’ ?
3.      Apa makna dari upacara adat tersebut ?

C.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian dari Rambu Solo’
2.      Untuk mengetahui proses Rambu Solo’
3.      Untuk mengetahui makna dari upacara adat tersebut

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN RAMBU SOLO’
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman (Rambu Solo') merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar upacara pemakaman yang besar.
Upacara pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Upacara dilaksanakan setelah lewat tengah hari, sinar matahari mulai terbenam menunjukkan kedukaan atas kematian/pemakaman manusia.
Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan.
Ritual/kurban persembahan dari upacara ini dilakukan di sebelah barat tongkonan. Rambu Solo’/Aluk Rampe Matampu’ dianggap sebagai upacara untuk menyempurnakan kematian seseorang.
Menurut Aluk Todolo, mati adalah suatu proses perubahan status semata-mata dari manusia fisik di dunia kepada manusia roh di alam gaib. Keadaan yang mati di alam gaib akan sama saja dengan kehidupan fisik di dunia, hanya saja tidak dapat dilihat atau diraba.
Puncak upacara Rambu Solo’ biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Ketika waktu, jenis dan pembagian tugas sudah disepakati, semua keturunan dari yang meninggal (anak hingga cicit) yang merantau akan pulang ke tongkonan untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini.

B.     PROSES RAMBU SOLO’
Rangkaian kegiatan upacara pemakaman Rambu Solo’ sangat rumit serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di Toraja orang yang meninggal baru akan dimakamkan berbulan-bulan setelah kepergiannya, pihak keluarga membutuhkan waktu mengumpulkan dana untuk upacara pemakaman. Besaran dana ini terkait dengan tingkat upacara dan jumlah hewan yang akan dikurbankan.
  

 Gambar 1 : Upacara Tradisional Rambu Solo’, Tedong Silaga dan Tongkonan

Dalam masa pengumpulan dana itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya (dunia arwah atau akhirat).
Jika sudah disepakati waktu pelaksanaan Rambu Solo’ oleh keluarga inti, maka semua anggota keluarga tanpa terkecuali akan datang ke tongkonan dengan membawa hewan kurban (kerbau dan babi) sebagai ungkapan turut bela sungkawa. Semakin banyak hewan yang dikurbankan dalam Rambu Solo’ maka semakin tinggi derajat yang meninggal ketika berada di nirwana. Daging hewan kurban kemudian dibagi-bagikan secara adat kepada keluarga dan masyarakat yang ikut berperan serta dalam Rambu Solo’. Hal yang lumrah jika biaya untuk menyelenggarakan Upacara Rambu Solo’ sangat besar, berkisar antara puluhan juta sampai ratusan juta rupiah.
Gambar 2 : Tongkonan Rante’ dan Kubur Batu
                       
Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya adakalanya dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.
                                                Gambar 3 : Tempat penguburan Toraja yang diukir
Selama masa tunggu pelaksanaan Rambu Solo’, rapat keluarga dilakukan oleh keluarga inti untuk menentukan tingkat upacara, jumlah hewan yang akan dikurbankan, serta pembagian tugas setiap keluarga di upacara Rambu Solo’. Setiap musyawarah harus dilaksanakan di tongkonan tempat jenazah disimpan, dan memotong kerbau setiap kali selesai musyawarah.
C.     MAKNA RAMBU SOLO’
Rambu Solo’ sekaligus cara bagi anak keturunan untuk tetap memuliakan orang tua. Anak keturunan akan berlomba-lomba menguburkan hewan sebanyak-banyaknya sehingga jenazah memperoleh tempat yang mulia. Rambu Solo’ bagi masyarakat Toraja merupakan salah satu bentuk bakti seorang anak kepada orang tua dan pengikat tali silaturahim dalam keluarga besar.
Meski secara medis sudah meninggal, jenazah dianggap “sedang sakit / To Makula’ dan oleh anggota keluarga atau tetangga akan diperlakukan sebagaimana orang yang sedang sakit atau dalam kondisi lemah. Perlakuan ini berakhir ketika dilaksanakannya Rambu Solo’ bagi yang bersangkutan, oleh keluarga atau keturunannya. Ritual Rambu Solo’ pada intinya adalah Meaya, yakni memindahkan/mengarak jenazah dari tongkonan ke Liang (kuburan) yang berupa gua di tebing batu.

                                                Gambar  4 : Mengarak jenazah ke kubur batu
Dalam kepercayaan Aluk Todolo, semakin tinggi (gua tebing batu) tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju nirwana/Puya, dunia arwah/akhirat yang berada di sebelah selatan wilayah Tana Toraja. “Dunia tempat peristirahatan”, tempat keabadian dimana arwah para leluhur berkumpul. Di tempat ini, ruh yang meninggal akan bertransformasi menjadi arwah gentayang (Bombo), arwah setingkat dewa (To Mebali Puang), arwah pelindung (Deata). Wujud transformasi tersebut tergantung dari kesempurnaan prosesi Rambu Solo’. Kerbau-kerbau (tedong) dan babi yang dikuburkan pada upacara pemakaman, harta benda dan perhiasan-perhiasan lainnya merupakan bekal dan perlengkapan utama yang akan dipergunakan di alam gaib. Sebelum mayat dikuburkan, terlebih dahulu dilakukan pemberkatan jenazah dan diiringi oleh nyanyian puji-pujian.


                                                     Gambar 5 : Gua Tebing Batu





DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia. (2019, 11 Oktober). Suku Toraja. Diperoleh 23 Oktober 2019, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja

Kemendikbud. Konten Budaya Nusantara Upacara Adat Rambu Solo’ – Toraja. Diperoleh 23 Oktober 2019, dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpkt/wp-content/uploads/sites/6/2015/09/Upacara-Adat-Rambu-Solo-Toraja.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bioteknologi : Pembiakan Seksual dan Aseksual

MITOS : Larangan Makan di Depan Pintu

Efek Rumah Kaca Terhadap Bumi