Karya Ilmiah : Tarian Sintren
KARYA
ILMIAH
ILMU
BUDAYA DASAR
“TARIAN SINTREN”
DISUSUN OLEH:
DIAH HARDIANI NINGRUM
11519754
1PA10
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan rahmat dan nikmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas
dukungan keluarga dan teman sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
Karya ilmiah yang berjudul “Tarian Sintren” ini disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
Penulis
pun menyadari bahwa karya ilmiah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak
kesalahan baik dalam penulisan atau pun kekurangan lainnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca makalah ini agar nanti nya makalah
ini menjadi lebih baik. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan penulis
mohon maaf sebesar-besarnya.
Depok, 8 November 2019
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar.............................................................................................. i
Daftar
Isi........................................................................................................ ii
BAB
I Pendahuluan
A.
Latar Belakang................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.............................................................................. 1
C.
Tujuan................................................................................................ 1
BAB
II Pembahasan
A. Pengertian
Tarian Sintren................................................................... 2
B. Penyajian
Tarian Sintren.................................................................... 3
C. Makna
Tarian Sintren......................................................................... 6
Daftar
Pustaka............................................................................................... 7
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Indramayu merupakan kabupaten di Jawa Barat yang
secara geografis berada di daerah pesisir pantai utara, diapit oleh beberapa
kabupaten yaitu Subang, Cirebon, Majalengka, dan Kuningan. Letak geografis
Indramayu yang berada di kawasan pantai utara maka kabupaten Indramayu memiliki
kebudayaan, adat istiadat, dan kesenian yang tidak jauh berbeda dengan
daerah-daerah yang berada di kawasan pantai utara lainnya seperti Cirebon dan
Pekalongan salah satu kesenian yang dimiliki oleh daerah-daerah ini yaitu
sintren.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
pengertian dari tarian Sintren ?
2. Bagaimana
penyajian tarian Sintren ?
3. Apa
makna dari tarian Sintren ?
C. TUJUAN
1. Untuk
mengetahui pengertian dari tarian Sintren.
2. Untuk
mengetahui penyajian tarian Sintren.
3. Untuk
mengetahui makna dari tarian Sintren.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN TARIAN SINTREN
Dari segi asal usul bahasa (etimologi) Sintren
merupakan gabungan dua suku kata “Si” dan “tren”. Si dalam bahasa Jawa berarti
“ia” atau “dia” dan “tren” berarti “tri” atau panggilan kata “putri”. Sehingga
Sintren adalah “Si Putri” yang menjadi pemeran utama dalam kesenian tradisional
Sintren.
Sintren berasal dari kata sintiran atau santrian
yaitu sejenis permainan rakyat yang mengandung unsur-unsur magis. Keistimewaan
kesenian ini adalah terjadinya peristiwa Kesurupan (trance) pada penarinya. Kesurupan berasal dari kata surup yang memiliki arti kerasukan
(setan, roh), orang yang “kesurupan” biasanya bertindak yang aneh-aneh.
Menurut tradisi lisan tarian Sintren ini bersumber
dari sebua cerita cinta kasih Raden Sulandono dan kekasihnya Sulasih. Raden
Sulandono merupakan putra dari Ki Bahurekso bupati Kendal yang pertama hasil
pernikahannya dengan Dewi Rantamsari yang dijuluki Dewi Lanjar. Pertujukan
sintren diperkirakan lahir sebelum islam masuk ke daerah Indramayu dan Cirebon.
Kisah kasih antara Sulasih dan Raden Sulandono tidak mendapatkan restu dari Ki
Bahurekso ayahanda dari Raden Sulandono karena Sulasih merupakan rakyat biasa.
Sehingga Raden Sulandono diperintahkan ibundanya
untuk bertapa dan diberikan selembar kain (sapu tangan) sebagai sarana kelak
untuk bertemu dengan Sulasih setelah masa bertapanya selesai. Sedangkan Sulasih
diperintahkan untuk menjadi penari pada setiap acara bersih desa diadakan
sebagai syarat bertemu Raden Sulandono.
Tepat pada saat bulan purnama diadakan upacara
bersih desa, berbagai pertunjukan rakyat. Pada saat itulah Sulasih menari
sebagai bagian pertunjukan dan Raden Sulandono turun dari pertapaannya secara
sembunyi-sembunyi dengan membawa sapu tangan pemberian ibunya. Sulasih yang
menari kemudian dimasuki kekuatan spirit Dewi Rantamsari sehingga mengalami “trace” dan saat itu pula Raden
Sulandono melemparkan sapu tangannya sehingga Sulasih pingsan. Saat Sulasih
“kemasukan roh” ini yang disebut Sintren dan pada saat Raden Sulandono melempar
sapu tangannya disebut Balangan. Dengan ilmu yang dimiliki Raden Sulandono maka
Sulasih akhirnya dapat dibawa kabur dan keduanya dapat mewujudkan cita-citanya
untuk bersatu dalam mahligai perkawinan.
B. PENYAJIAN
TARIAN SINTREN
Untuk menjadi seorang sintren, persyaratan yang
utama adalah penari diharuskan masih gadis dan perawan. Hal ini dikarenakan
seorang sintren harus dalam keadaaan suci dan penari sintren merupakan
“bidadari” dalam pertunjukan. Bahkan sebelum menjadi seorang sintren sang gadis
diharuskan berpuasa terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar tubuh si gadis
tetap dalam keadaan suci. Karena dengan
berpuasa otomatis si gadis akan menjaga pola makanannya, selain itu dia akan
menjaga tingkah lakunya agar tidak berbuat dosa dan berzina. Sehingga tidak
menyulitkan bagi roh atau dewa yang akan masuk ke dalam tubuhnya.
Pertunjukan Sintren disajikan pada waktu sunyi dan
menurut kepercayaan masyarakat lebih utama lagi kalau dipentaskan pada malam
kliwon. Tempat yang biasanya digunakan pertunjukan Sintren adalah arena
terbuka, yaitu berupa arena pertunjukan yang tidak terlihat batas antara
penonton dengan penari sintren maupun pendukungnya.
Pendukung pertunjukan Sintren terdiri dari 1 pawang,
dayang cantik biasanya berjumlah 4 orang perempuan atau 7, pengiring
musik/tembang terdiri dari 3 orang perempuan sebagai penyanyi, 1 grup penabuh
gamelan yang berjumlah kurang lebih 10 orang, dan penari sintren yang menjadi
daya tarik paling utama dalam pertunjukan sintren
Gambar 1 :
Tarian Sintren dilakukan di tempat terbuka
Sebelum pertujukan, biasanya diawali dengan tabuhan
gamelan sebagai tanda akan dimulainya pertunjukan kesenian Sintren dan
dimaksudkan untuk mengumpulkan massa atau penonton. Penonton biasanya datang
bergelombang dan menempatkan diri dengan mengelilingi arena, disambut dengan
koor lagu-lagu dolanan anak-anak Jawa, seperti lir-ilir, cublek-cublek suweng,
dan sebagainya.
Setelah itu dilakukan pembakaran “dupa” yaitu acara
berdoa bersama-sama diiringi membakar kemenyan dengan tujuan memohon
perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selama pertunjukan terhindar dari
mara bahaya. Bahkan sebelumnya perlu dilakukan acara ritual selama 40 hari
terhadap penari Sintren untuk mencapai kesempurnaan penampilannya.
Berikutnya adalah tahapan menjadikan Sintren yang
akan dilakukan oleh Pawang dengan membawa calon penari Sintren bersama dengan
empat orang pemain. Kemudian Sintren didudukkan oleh Pawang dalam keadaan
berpakaian biasa dan didampingi para dayang/cantrik. Pawang segera menjadikan
penari Sintren secara bertahap, melalui tiga tahapan.
Tahap pertama, pawang memegang kedua tangan calon
penari Sintren, kemudian diletakkan di atas asap kemenyan sambil mengucapkan
mantra, selanjutnya mengikat calon penari Sintre dengan tali melilit ke seluruh
tubuh.
Tahap kedua, calon penari Sintren dimasukkan ke
dalam sangkar (kurungan) ayam bersama busana Sintren dan perlengkapan merias
wajah. Beberapa saat kemudian kurungan dibuka, Sintren sudah berdandan dalam
keadaan terikat tali, lalu Sintren ditutup kurungan kembali.
Tahap ketiga, setelah ada tanda-tanda Sintren sudah
jadi (biasanya ditandai kurungan bergetar/bergoyang) kurungan dibuka, Sintren
sudah lepas dari ikatan tali dan siap menari. Selain menari adakalanya Sintren
melakukan akrobatik diantaranya ada yang berdiri diatas kurungan sambil menari.
Selama pertunjukan Sintren berlangsung, pembakaran kemenyan tidak boleh
berhenti.
Gambar 2 : Sintren sudah jadi dan
kurungan dibuka
Gambar 3 : Sintren menari di atas
kurung
Keunikan dalam
pertunjukan Sintren adalah penari yang berpakaian biasa dalam keadaan tubuh dan
tangan terikat mampu menjelma di dalam kurungan ayam jago yang di dalamnya
telah disediakan berbagai alat rias seperti cermin, bedak, gincu, seperangkat
pakaian tari dan kacamata hitam menjadi gadis cantik dan mengenakan pakaian
indah dengan hiasan wajah yang begitu sempurna dan kacmata hitam.
C.
MAKNA TARIAN
SINTREN
Tari sintren memiliki
makna filosofis tentang kehidupan. Sultan Kasepuhan Cirebon PRA Arief
Natadiningrat mengatakan tak ada unsur mistis dalam tarian sintren. Arief
mengatakan tari sintren memiliki makna bahwa manusia kerap lupa diri ketika
sudah bergelimang harta. Arief menyebutkan
uang yang dilempar ke penari dimaknai sebagai harta atau nafsu duniawi. Penari
pun langsung jatuh ketika terkena lemparan uang.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, L.D. (2016). Kesenian Sintren Sebagai
Kearifan Lokal Ditinjau Dari Metafisika Anton Bakker. Jurnal
Penelitian Humaniora, 21, 59-60
Darmoko,
P.D. Kesenian Sintren dalam tarikan Tradisi dan Modernitas, 116-118
Rachmawati, F.A. Tumurune Hapsari. 3-4
Detik Travel. (2018, 25
Juni). Tari Sintren dari Cirebon yang
Penuh Filosofi Hidup. Diperoleh 8 November 2019, dari https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4081974/tari-sintren-dari-cirebon-yang-penuh-filosofi-hidup




Komentar
Posting Komentar