Gangguan Kejiwaan : Skizofrenia
KARYA
ILMIAH
ILMU
BUDAYA DASAR
“GANGGUAN KEJIWAAN : SKIZOFRENIA”
DISUSUN OLEH:
DIAH HARDIANI NINGRUM
11519754
1PA10
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan rahmat dan nikmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas
dukungan keluarga dan teman sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
Karya ilmiah yang berjudul “Gangguan Kejiwaan : Skizofrenia” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar.
Penulis
pun menyadari bahwa karya ilmiah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak
kesalahan baik dalam penulisan atau pun kekurangan lainnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca makalah ini agar nanti nya makalah
ini menjadi lebih baik. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan penulis
mohon maaf sebesar-besarnya.
Depok, 18 November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar.............................................................................................. i
Daftar
Isi........................................................................................................ ii
BAB
I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................ 2
BAB
II Pembahasan
2.1 Definisi
Skizofrenia........................................................................... 3
2.2 Gejala
Skizofrenia.............................................................................. 3
2.3 Penyebab
Skizofrenia........................................................................ 5
2.4 Dampak
Skizofrenia.......................................................................... 7
2.5 Pengobatan
Skizofrenia..................................................................... 8
Daftar
Pustaka............................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Skizofrenia merupakan
sekelompok gangguan psikotik, dengan gangguan dasar pada kepribadian, distorsi
khas pada proses pikir. Kadang-kadang mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang
dikendalikan kekuatan dari luar. Gangguan skizofrenia umumnya ditandai oleh
distorsi pikiran dan persepsi yang mendasar dan khas, dan oleh efek yang tidak
serasi atau tumpul (Ibrahim, 2005).
Skizofrenia telah
dikenal sejak satu abad yang lalu dan merupakan salah satu penyakt medis yang
menyerang mental penderita. Skizofrenia adalah gangguan jiwa psikotik yang
menimbulkan gejala kejiwaan, seperti kekacauan dalam berpikir, emosi, persepsi,
dan perilaku menyimpang, dengan gejala utama berupa waham (keyakinan salah),
delusi (pandangan yang tidak benar), dan halusinasi (persepsi tanpa rangsangan
pancaindra).
Skizofrenia merupakan
penyakit yang mudah kambuh dan bisa menetap dalam jangka waktu yang cukup
panjang. Bisa saja penyakit ini menetap pada penderita seumur hidupnya. Bila
dibiarkan, penyakit ini dapat mengakibatkan kemunduran dalam berbagai aspek
kehidupan sosial penderita. Meski serius, penyakit ini dapat disembuhkan,
terutama bila diobati dengan sungguh-sungguh. Ada berbagai cara pendekatan
dalam pengobatan skizofrenia. Semua pendekatan dan pengobatan skizofrenia
tergantung dari kebutuhan penderita, karena setiap penderita memiliki
pengobatan yang berbeda sesuai dengan jenis skizofrenia yang dideritanya
(Fausiah dan Widury, 2006).
Menurut data World Health Organization (WHO),
masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah
yang sangat serius. Pada tahun 2001 WHO menyatakan, paling tidak ada satu dari
empat orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. WHO memperkirakan ada
sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Pada saat
ini, penderita skizofrenia jumlahnya mengalami peningkatan terkait dengan
berbagai macam permasalahan yang dialami, mulai dari kondisi perekonomian yang
memburuk, kondisi keluarga atau latar belakang pola asuh anak yang tidak baik
sampai bencan alam yang melanda. WHO juga menyebutkan pada tahun 2013 jumlah
penderita skizofenia mencapai 450 juta jiwa di seluruh dunia.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa definisi
dari skizofrenia?
2.
Bagaiman gejala
atau karakteristik dari skizofrenia?
3.
Apa penyebab
dari skizofrenia?
4.
Apa dampak dari
skizofrenia?
5.
Bagaimana
penanggulangan atau pengobatan dari skizofrenia?
1.3 TUJUAN
1.
Untuk mengetahui
dan memahami definisi dari skizofrenia.
2.
Untuk mengetahui
gejala atau karakteristik dari skizofrenia.
3.
Untuk mengetahui
penyebab dari skizofrenia.
4.
Untuk mengetahui
dampak dari skizofrenia.
5.
Untuk mengetahui
cara penanggulangan skizofrenia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
DEFINISI SKIZOFRENIA
Skizofrenia
adalah salah satu bentuk gangguan psikosis yang menunjukan beberapa gejala
psikotik, ditambah cerita lain seperti jangka waktu, kosekuensi dari gangguuan
tersebut dan tidak tumpang tindih dengan gangguan lain yang mirip. Pasien
psikotik tidak dapat mengenali atau tidak memiliki kontak dengan realitas.
Beberapa gejala psikotik adalah delusi, halusinasi, pembicaraan kacau, tingkah
laku kacau (Arif, 2006).
Skizofrenia
adalah suatu penyakit otak persisten serius yang mengakibatkan perilaku
psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan
interpersonal, serta memecahkan masalah (Stuart, 2002).
2.2 GEJALA SKIZOFRENIA
a. Gejala
positif skizofrenia
Gejala positif disebut
juga sebagai gejala akut, merupakan pikiran dan indera yang tidak biasa,
bersifat nyata, yang mengarah ke perilaku pasien yang tidak normal.
Gejala-gejala ini antara lain:
1) Delusi
atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional. Meskipun telah
dibuktikan secara objektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional, namun
penderita tetap meyakini kebenarannya.
2) Halusinasi,
yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan. Misalnya penderita
mendengar bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari bisikan
itu.
3) Kekacauan
alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya
kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.
4) Gaduh,
gelisah tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan
gembira berlebihan.
5) Merasa
dirinya “Orang Besar”, merasa serba mampu, serba hebat dan sejenisnya.
6) Pikirannya
penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada anacaman terhadap dirinya.
7) Menyimpan
rasa permusuhan (Hawari, 2007).
b. Gejala
negatif skizofrenia
Gejala negatif disebut
juga gejala kronis, lebih sulit dikenali daripada gejala positif. Jika
kondisinya memburuk, kemampuan kerja dan perawatan diri pasien akan
terpengaruh. Gejala-gejala ini antara lain:
1) Alam
perasaan “tumpul” dan “mendatar”. Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat
dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi .
2) Menarik
diri atau mengasingkan diri, tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain,
suka melamun.
3) Kontak
emosional amat “miskin”, sukar diajak bicara, pendiam.
4) Pasif
dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.
5) Sulit
dalam berfikir abstrak.
6) Tidak
ada/kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada inisiatif dan serba malas
(Hawari, 2007).
2.3 PENYEBAB SKIZOFRENIA
Menurut teori model diathesis stress skizofrenia
dapat timbul karena adanya integrasi antara faktor biologis, faktor psikososial
dan lingkungan. Seseorang yang rentan jika dikenai stressor akan lebih mudah
untuk menjadi skizofrenia. Lingkungan emosional yang tidak stabil mempunyai
risiko yang besar pada perkembangan skizofrenia. Stressor sosial juga
mempengaruhi perkembangan suatu skizofrenia. Diskriminasi pada komunitas
minoritas mempunyai angka kejadian skizofrenia yang tinggi (Sinaga, 2007).
Tampaknya skizofrenia tidak disebabkan oleh penyebab
yang tunggal, tetapi dari berbagai faktor. Sebagaian besar ilmuwan meyakini
bahwa skizofrenia adalah penyakit biologis yang disebabkan oleh faktor-faktor
genetik, ketidakseimbangan kimiawi di otak, abnormalitas struktur otak, atau
abnormalitas dalam lingkungan prenatal. Berbagai peristiwa stress dalam hidup
dapat memberikan kontribusi pada perkembangan skizofrenia pada mereka yang
telah memiliki predisposisi pada penyakit ini (Arif, 2006).
Teori tentang sebab-sebab skizofrenia adalah sebagi
berikut:
a.
Teori somotogenesis
Teori
Somotogenesis adalah pendekatan yang berusaha memahami kemunculan skizofrenia
sebagai akibat dari berbagai proses biologis dalam tubuh. Antara lain:
1.
Keturunan
Keturunan
dapat dipastikan bahwa ada faktor keturunan yang juga menentukan timbulnya
skizofrenia. Hal ini dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga - keluarga
penderita skizofrenia dan terutama pada anak-anak
kembar
satu telur (Maramis, 2004).
2.
Metabolisme
Ada
yang menyangka skizofrenia disebabkan oleh suatu
gangguan
metabolisme, karena penderita akan tampak pucat dan tidak sehat. Nafsu makan
berkurang dan berat badan menurun (Maramis, 2004).
3.
Susunan saraf pusat
Ada
yang mencari penyebab skizofrenia ke arah kelainan
susunan
saraf pusat, yaitu pada diensefalon atau kortek otak. Tetapi kelainan patologis
yang ditemukan itu mungkin disebabkan oleh perubahan-perubahan postmortem atau
merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan (Maramis, 2004).
b.
Teori Psikogenik
Teori
psikogenik adalah teori yang menyatakan bahwa skizofrenia sebagai suatu
gangguan fungsional dan penyebab utama ialah konflik, stres psikologik dan
hubungan antar manusia yang mengecewakan.
1.
Teori Adolf Meyer
Skizofrenia
tidak disebabkan oleh suatu penyakit badaniah,
kata
Meyer (1906), sebab sampai sekarang para ilmuwan tidak dapat menemukan kelainan
patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada susunan saraf. Sebaliknya
Meyer mengakui bahwa penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya skizofrenia
(Maramis, 2004).
2.
Teori Sigmund Freud
Bila
kita memakai formula Freud, maka pada skizofrenia terdapat:
a)
Kelemahan ego, yang dapat timbul karena
penyebab psikogenik ataupun somatik.
b)
Superego dikesampingkan sehingga tidak
bertenaga lagi dan terjadi suatu regresi ke fase narsisme.
c)
Kehilangan kapasitas untuk pemindahan
(transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin (Maramis, 2004).
3.
Teori Eugen Bleuler (1857-1938)
Tahun
1911 Bleuler menganjurkan supaya lebih baik
dipakai
istilah “skizofrenia”, karena nama ini dengan tepat sekali menonjolkan gejala
utama penyakit ini, yaitu jiwa terpecah-pecah, adanya keretakan atau disharmoni
antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan (schizoc = pecah-pecah
bercabang, phren = jiwa) (Maramis, 2004).
2.4 DAMPAK SKIZOFRENIA
Penderita
skizofrenia biasanya mengalami tanda dan gejala yang berbeda-beda, baik itu
gejala negatif maupun gejala positif. Disamping itu skizofrenia memiliki tanda
dan gejala lainnya antara lain: though echo, waham, halusinasi, arus pikir yang
terputus, perilaku katatonik dan adanya suatu perubahan yang konsisten dan
bermakna.
Dampak
dari skizofrenia bagi individu yang terkena,
keluarga, dan masyarakat pada umumnya adalah sangat besar. Beban
keluarga di antaranya hilagnya produktivitas keluarga, gangguan ritme aktivitas
keluarga, stigma yang dibebankan masyarakat pada keluarga dan pasien.
Sebuah
penelitian yang dilakukan di Malaysia tahun 2010, menyatakan bahwa 80% dari
caregiver yang menyediakan perawatan rutin merasa terbeban hubungannya dengan
keluarga, 71% melaporkan sering terjadi ketegangan komunikasi di antara anggota
keluarga (Phillips et al., 2002; Sri Idaiani dan Hartono, 2005; Lewis et al.,
2009).
2.5 PENGOBATAN SKIZOFRENIA
1)
Obat
Obat bisa mengurangi atau menghilangkan
gejala positif dari pasien secara efektif, misalnya delusi, halusinasi, dan
pikiran yang tidak teratur. Obat juga bisa mengendalikan kecemasan dan membantu
pasien untuk kembali ke kehidupan nyata. Namun ada efek samping dari obat yang
dikonsumsi, misalnya kekakuan otot,
gerakan
yang lambat, tangan gemetar, mulut kering, sembelit, kelelahan, detak jantung
yang cepat, dan peningkatan berat badan.
Dokter biasanya meresepkan dua jenis
obat antipsikotik (obat untuk penyakit mental), yang merupakan antipsikotik
tipikal (misalnya Haloperidol, Thioridazine, dan Fluphenazine) dan antipsikotik
atipikal (misalnya Clozapine, Risperidone, dan Olanzapine). Dokter akan
meresepkan berbagai jenis obat yang berbeda, tergantung pada kondisi pasien,
status pengobatan, dan reaksi pasien terhadap obat. Kedua jenis obat bisa
memberikan efek samping yang berbeda.
2)
Pengobatan Ajuvan
Rehabilitasi
bisa membantu dan melatih pasien untuk menghadapi dan mengelola kehidupan
mereka sehari-hari. Tergantung pada kondisi tiap individu, para ahli medis profesional
akan menetapkan program pengobatan yang sesuai bagi diri pasien, misalnya
pelatihan perawatan diri (termasuk kebersihan diri, memasak, keselamatan rumah
tangga, adaptasi terhadap masyarakat, dan penggunaan uang), pelatihan kemampuan
kerja, manajemen stres, dan keterampilan interpersonal dengan anggota keluarga
lainnya.
Namun, anggota keluarganya juga harus
memperhatikan kesehatan fisik dan mental mereka sendiri, belajar bagaimana cara
untuk bersantai, dan mencari bantuan jika diperlukan saat merawat pasien.
Anggota keluarga harus menahan diri untuk tidak mengungkapkan komentar secara
kritis, membuat sikap bermusuhan, dan menumbuhkan perasaan ikut campur secara
berlebihan kepada diri pasien. Menurut penelitian yang dilakukan, sikap-sikap
yang tidak diinginkan ini (emosi yang dikeluarkan secara negatif) telah
terbukti meningkatkan tingkat kekambuhan penyakit skizofrenia.
DAFTAR
PUSTAKA
Pairan.,
Mubarok, A. M., Nugraha, E. N.. (2018). Metode
Penyembuhan Penderita Skizofrenia Oleh Mantri Dalam Perspektif Pekerjaan Sosial.
Empati Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial.
7. 64-76. Doi: 10.15408/empati.v7i1.10015p-ISSN: 2301-4261
Smart Patient. (2016). Skizofrenia. Diakses 18
November 2019, dari https://www21.ha.org.hk/smartpatient/EM/MediaLibraries/EM/EMMedia/Schizophrenia-Indonesian.pdf?ext=.pdf
http://eprints.ums.ac.id/14974/2/3%29_BAB_I.pdf
http://eprints.umpo.ac.id/2718/2/BAB%20I.pdf

Komentar
Posting Komentar