Gangguan Kejiwaan : Bipolar
KARYA
ILMIAH
ILMU
BUDAYA DASAR
“GANGGUAN KEJIWAAN : BIPOLAR”
DISUSUN OLEH:
DIAH HARDIANI NINGRUM
11519754
1PA10
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan rahmat dan nikmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas
dukungan keluarga dan teman sehingga dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.
Karya ilmiah yang berjudul “Gangguan Kejiwaan : Bipolar” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar.
Penulis
pun menyadari bahwa karya ilmiah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak
kesalahan baik dalam penulisan atau pun kekurangan lainnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca makalah ini agar nanti nya makalah
ini menjadi lebih baik. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan penulis
mohon maaf sebesar-besarnya.
Depok, 23
November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar.............................................................................................. i
Daftar
Isi........................................................................................................ ii
BAB
I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................ 2
BAB
II Pembahasan
2.1 Definisi
Bipolar.................................................................................. 3
2.2 Gejala
Bipolar.................................................................................... 4
2.3 Penyebab
Bipolar............................................................................... 5
2.4 Dampak
Bipolar................................................................................. 6
2.5 Pengobatan
Bipolar............................................................................ 6
Daftar
Pustaka............................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Penyebab suatu penyakit tidak hanya dikarenakan
kelainan pada fisiologi tubuh seseorang namun juga karena adanya gangguan
psikologis. Gangguan psikologi atau gangguan kejiwaan banyak ditemui di tengah
masyarakat, mulai ringan hingga berat. Berbagai penelitian pun dilakukan untuk
mencari penanganan yang tepat. Salah satu masalah kejiwaan yang masih kurang
dipahami masyarakat adalah gangguan bipolar. Selain itu penelitian maupun
jurnal masih jarang mengangkat tentang penyakit gangguan bipolar. Gangguan
bipolar adalah salah satu penyakit mental yang paling umum, parah, dan
persisten (Ikawati, 2011). Gangguan Bipolar atau juga dikenal sebagai
mania-depresif merupakan gangguan otak yang menyebabkan perubahan yang tidak
normal dalam suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan kemampuan untuk
melaksanakan kegiatan sehari-hari (NIMH, 2008).
Gangguan bipolar, yang sering disebut dengan
gangguan manik depresi, adalah ssuatu gangguan mood yang ekstrim dan euforia menjadi depresi berat, dan
diperantarai oleh periode mood yang
normal (eutimik).
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
definisi dari bipolar?
2. Bagaiman
gejala atau karakteristik dari bipolar?
3. Apa
penyebab dari bipolar?
4. Apa
dampak dari bipolar?
5. Bagaimana
penanggulangan atau pengobatan dari bipolar?
1.3 TUJUAN
1. Untuk
mengetahui dan memahami definisi dari bipolar.
2. Untuk
mengetahui gejala atau karakteristik dari bipolar.
3. Untuk
mengetahui penyebab dari bipolar.
4. Untuk
mengetahui dampak dari bipolar.
5. Untuk
mengetahui cara penanggulangan bipolar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
BIPOLAR
Gangguan bipolar menurut “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Text Revision”
edisi yang ke empat (DSM IV-TR) adalah gangguan perasaan (mood) yang terdiri dari paling sedikt satu episode manik,
hipomanik, atau campuran yang biasanya disertai dengan adanya riwayat episode
depresi mayor.
Gangguan bipolar adalah jenis penyakit dalam
keilmuan psikologi, dalam perkembangannya gangguan bipolar adalah salah satu
penyakit mental yang masuk dalam kategori penyakit gangguan jiwa. Dalam kurun
waktu terakhir, bipolar menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu penyakit
yang berbahaya, khususnya dikalangan remaja, dewas, dan dewasa matang
(Sarlinto, 1995).
Secara etimologi, bipolar adalah suatu penyakit
mental yang terdapat dalam penyakit psikologis, yang juga disebut “Manic– Deprssive” yang artinya antara
kebahagiaan atau perasaan gembira yang terjadi secara berlebihan dan perasaan
depresi atau frustasi yang terjadi secara berlebihan dan perasaan depresi atau
frustasi yang terjadi secara tidak wajar dan tidak terkendalikan baik oleh penderitanya
maupun orang lain dan keluarganya. Pada siklus yang tidak menentu inilah
bipolar berkembang dan terus berkembang yang diikuti oleh episode-episode mania
dan depresi (Safari & Saputra, 2009).
Sesuai namanya, pasien gangguan bipolar mungkin
menunjukkan kedua mood mania dan depresi. Saat memiliki mania, mereka
menunjukkan suasana hati yang gembira, merasa sangat bersemangat, percaya diri,
penuh dengan gagasan dan merasa tidak berdaya. Tapi saat depresi datang, mereka
akan kehilangan minat dalam segala hal, kekurangan energi dan pesimis yang
menyedihkan.
2.2 GEJALA
BIPOLAR
1. Manik
·
Suasana hati yang lincah: menunjukkan
kegembiraan, kesenangan, atau kemarahan yag terus-menerus dengan marah,
memberontak dengan marah tentang masalah sepele dan menunjukkan kontrol diri
yang lemah.
·
Pikiran balap: sangat banyak bicara,
yang menyebabkan suara serak; ada banyak ide bagus, dan pikiran berubah dengan
cepat, menunjukkan rasa percaya diri dan kesombongan yang berlebihan.
·
Aktivitas dan energi yang berlebihan:
menghasilkan banyak gagasan, memikirkan bisnis orang lain dan secara aktif
bergairah; aktif dan sibuk sepanjang waktu, tapi selalu gagal menyelesaikan
tugas; belanja murah hati dan berlebihan.
2. Depresif
·
Suasana hati yang rendah: tertekan dan
acuh tak acuh; pesimistis dan putus asa terhadap hal-hal rutin; Kehilangan
kasih sayang pada teman dan keluarga, merasa tidak berdaya terhadap kehidupan
sehari-hari dan prospek; hindari kontak dengan teman dan saudara.
·
Peimikiran lambat: reaksi lambat, dan
pemikiran tertutup; merasa bahwa otak seseorang tidak bekerja dengan baik,
dengan kesulitan dalam mengingat dan berkonsentrasi; berbicara dengan berbisik,
selalu dengan bibir bergerak tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seseorang
mungkin juga mengembangkan gagasan yang tidak benar karena mendapat penyakit,
biasanya penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
·
Mengurangi aktivitas dan energi: sedikit
aktivitas, selalu merasa letih; tiggal sendirian di kamar, kadang-kadang bahkan
tidak mau minum atau makan, perlu tekanan perawatan oleh orang lain; bahkan
mengembangkan pikirkan atau perilaku bunuh diri.
2.3 PENYEBAB
BIPOLAR
Penyebab pasti dari gangguan bipolar belum diketahui
secara tepat. Gangguan bipolar dianggap sebagai penyakit genetik yang kompleks
yang memengaruhi lingkungan dan disebabkan oleh berbagai kelainan neurobioogic (Drayton & Weinstein,
2008). Diperkirakan beberapa faktor dapat menjadi penyebab terjadinya seseorang
mendapat gangguan bipolar, antara lain:
1. Faktor
Genetik
Sebanyak
80% - 90% pasien dengan gangguan bipolar memiliki riwayat keluarga yang juga
memiliki gangguan mood (misal,
gangguan bipolar, depresi, siklotima
atau dysthymia). Keluarga derajat
pertama pasien dengan gangguan bipolar memiliki prevalensi sebesar 15% - 35%
berawal dari gangguan mood dan 5% -
10% memiliki risiko langsung mengalami gangguan bipolar (Drayton &
Weinstein, 2008).
2. Faktor
Biokimia
Sejumlah
besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam metabolit amin biogenic di dalam darah,
urin, dan cairan serebrospinalis pada pasien gangguan mood. Amin biogenic (Norepinefrin dan serotonim) merupakan dua
neutransmiter yang paling berperan dalam patofisologis gangguan mood (Kaplan, dkk, 1996). Apabila
Norepinefrin ( NE) dan epinefrin
mengalami penurunan kadar NE dan epinefrin menyebabkan depresi, sebaliknya
peningkatan kadar keduanya menyebabkan mania (Ikawati, 2011).
3. Faktor
Lingkungan
Telah
lama diamati bahwa peristiwa yang menyebabkan stress sering mendahului episode
pertama dan dapat meningkatkan serta memperpanjang waktu pemulihan dari
gangguan mood (Drayton &
Weinstein, 2008). Kehamilan juga merupakan stress tertentu untuk wanita dengan
riwayat penyakit mania-depresif dan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya
psikosis pospartum (Ikawati,2011).
2.4 DAMPAK
BIPOLAR
Bipolar disorder
dapat memengarhi kehidupan seseorang, seperti kemampuan di berbagai bidang,
gangguan besar bagi kesehatan, hubungan sosial, dan gaya hidup seseorang, Oleh
sebab itu, penyakit ini memerlukan penanganan secara serius agar penderitanya
dapat menjalani hidup dengan normal.
2.5 PENGOBATAN
BIPOLAR
1. Terapi
Pengobatan
1) Mood Stabilizer
Mereka
bukan obat penenang dan tidak menimbulkan kecanduan. Lithium adalah salah satu
obat tradisional yang digunakan, mampu mengendalikan gangguan bipolar secara
aktif, dan mencegah mania dan depresi berulang. Efek sampingnya meliputi rasa
haus, sering buang air kecil, tremor tangan dan jerawat tumbuh. Pasien pun
harus melakukan tes darah rutin untuk memantau jumlah litium dalam darah.
Sodium
Valproate adalah penstabil mood lain da dokter mungkin meresepkannya untuk
menggantikan lithium. Efek sampingnya meliputi mual, kelelahan, sakit otot,
rambut rontok, penambahan berat badan, dan lain-lain.
2) Antipsikotik
Mereka
digunakan untuk mengobati gejala gangguan bipolar dan untuk menenangkan pasien.
Obat antipsikotik generasi lama adalah untuk mengendalikan mania dengan
membatasi aktivitas dopamin pusat, seperti Holoperidol dan Chlorpromazine yang
merupakan obat penenang yang kuat, namun dapat menyebabkan efek samping seperti
ketegangan otot, tremor tangan, kegelisahan, haus, dan lain-lain.
Antipsikotik
generasi baru dapat memperbaiki gejala depresi dan mania dengan mempengaruhi
serotonin otak dan dopamin. Efek sampingnya relatif lebih ringan. Salah satu
antipsikotik generasi baru adalah Olanzapine. Ini bisa mengobati mania akut
secara efektif. Efek sampingnya meliputi kelelahan, penambahan berat badan,
meningkatkan kadar lipid darah dan glukosa darah. Antipsikotik generasi baru
lainnya termasuk Ziprasidone, Quetiapine, Aripiprazole dan Risperidone.
3) Antidepresan
·
Antidepresan trisiklik
Dokter biasa meresepkan
antidepresan trisiklik, seperti Amitriptyline, Imipramine, dan Nortriptyline,
dan lain-lain, untuk membantu pasien memantau fungsi serotonin otak dan
adrenalin untuk mencapai efek melawan depresi. Efek sampingnya meliputi rasa
kantuk, haus, sembelit, penglihatan kabur, sulit buang air kecil, kelelahan,
melemahnya ingatan, dan sebagainya.
·
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor
(SSRI)
Ini termasuk obat
generasi baru, seperti Paroxetine. Ini meningkatkan konsentrasi serotonin otak,
dan memiliki efek mengobati depresi, dengan efek samping lebih sedikit
dibandingkan antidepresan trisiklik.
·
Serotonin Norepinephrine Reuptake
Inhibitor (SNRI)
Antidepresan generasi
baru lainnya. Dengan memantau konsentrasi serotonin dan noradrenalin otak,
terapi ini mencapai efek terapi. Venlafaxine dan Duloxetine termasuk tipe ini.
·
Inhibitor Reuptake
Norepinephrine-dopamine (NDRI)
Obat generasi baru
seperti Bupropion. Fungsinya untuk meningkatkan konsentrasi adrenalin dan
dopamin otak, yang tidak secara langsung mempengaruhi fungsi serotonin otak,
dan sangat cocok untuk mereka yang tidak merespon inhibitor reuptake serotonin
selektif.
·
Obat anti kecemasan
Ini termasuk obat
penenang benzodiazepin yang biasanya dibagikan. Ini untuk mengobati agitasi
akut pasien, kegelisahan atau gangguan kecemasan umum simultan.
2. Terapi
Psikologis
Saat
ini, pengobatan psikologis yang biasanya diadopsi adalah perawatan perilaku
kognitif. Psikolog klinis akan membangun hubungan saling percaya, dan kemudian
mengubah kesalahan pemuridan pasien dan perilaku bermasalah yang tidak
terkendali, dia membantu pasien memperlancar kekhawatirannya
3. Terapi
Elektrokonvulsif (ECT)
Terapi
elektrokonvulsif dapat digunakan jika obat ditemukan tidak efektif dalam
mengobati gangguan bipolar. Setelah pasien memakai anestesi umum, dokter akan
menggunakan sedikit arus listrik dan melewati otak pasien untuk merangsang
sistem saraf pusatnya, sehingga kondisi pasien dapat diperbaiki. Hal ini sangat
efektif bila pasien dengan depresi berat tidak menanggapi pengobatan.
DAFTAR
PUSTAKA
Smart Patient. (2016). Bipolar. Diakses 23 November
2019, dari https://www21.ha.org.hk/smartpatient/EM/MediaLibraries/EM/EMMedia/Bipolar-Affective-Disorder_Bahasa-Indonesia.pdf?ext=.pdf
Furi, L.M..
(2014). J Agromed Unila. Bipolar Affective Disorder And Manic Episode With
Psychotic Symptoms In A 39 Years Old Man. 1. 212. Diakses dari http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/agro/article/download/1281/pdf
Falitah. (2013).
Pola Pengobatan Pada Pasien Gangguan Bipolar Di Rumah Sakit Grhasia Yogyakarta
Pada Tahun 2009-2011.Diakses dari Universitas Gadjah Mada, Situs Web Repository UGM,
http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/64876/potongan/S1-2013-264543-chapter1.pdf
https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/13975/05.%202%20bab%202.pdf?sequence=4&isAllowed=y

Komentar
Posting Komentar